Grogi Saat Rekaman



Salah seorang pengurus FLP Jawa Timur menghubungi saya. Meminta saya membuat video kultum singkat untuk dimasukkan channel Youtube. Sempat tertunda karena banyaknya deadline, akhirnya saya coba. Kebetulan ada tripod. Jadi saya pakai tripod sehingga tak perlu bantuan orang lain untuk ambil rekaman.

Meski sempat grogi di awal, proses “syuting” dengan HP Asus berjalan mulus. Hanya ada beberapa detik yang menurut saya perlu dipangkas. Pikir saya, gampang nanti biar diedit mereka. Tugas saya hanya rekaman. Dan jadilah rekaman itu dalam tiga kali “take”. Kenapa? Karena ternyata memori HP saya penuh. Saya harus menghapus beberapa dulu, baru lanjut rekaman lagi. Saat pengambilan yang kedua pun begitu. Saya bahkan terpaksa menghapus beberapa aplikasi.

Sebenarnya heran juga, karena sebelumnya memori HP saya itu masih lumayan longgar. Kok tiba-tiba penuh. Padahal durasi total 3 video hanya sekitar 7 sampai 8 menit.

Saya coba kirim video tersebut via Whatsapp. Ternyata gagal. HP malang nge-hang. Saya coba pindah file di HP ke laptop, tetap nge-hang. File-nya tidak terbaca. Beberapa cara coba dilakukan dan semuanya gagal. Saya kehabisan cara. Usut punya usut, saya baru menyadari kalau total ukuran video tersebut kurang lebih 1 GB. Wah, pantes!

Akhirnya, saya kirim ke Google Drive dan berhasil. Tapi tim FLP, kayaknya kesulitan mengunduhnya. Hehe.

Tak mau mengulang kegagalan sebelumnya, saya iseng nyoba rekaman audio saja. Pakai software Easy Voice Recorder. Grogi masih ada. Tapi banyak berkurang. Mungkin karena sebelumnya saya sudah terbiasa, ambil rekaman suara untuk materi kelas pranikah. Jadi, Alhamdulillah sudah lumayan lancar.

Efek #dirumahaja sangat terasa sekarang ini. Biasanya saya mengisi seminar dan pelatihan offline. Dan menurut saya lebih mudah. Lebih gak grogi. Kalau rekaman malah grogi. Mungkin memang pada dasarnya gak bakat jadi artis. Hehe. Kalau ada istilah “demam panggung” bagi yang grogi ngomong di depan umum, ini mungkin “deman rumah”. Karena sebenarnya hanya duduk di rumah, tak ada yang melihat.

Rekaman video atau audio seperti ini sebenarnya bukan kali pertama bagi saya. Jauh hari yang lalu, saya pernah syuting untuk pembuatan video profil Cahaya Pustaka. Sama, grogi juga. Dan harus mengulang beberapa kali. sebelum syuting, kata-kata yang mau disampaikan sudah dihapal. Tapi begitu syuting mulai, rasanya ambyar seketika. Hilang dari ingatan.

Tiga hari sebelum Ramadan. Saya bersama istri dan si kecil juga rekaman. Bikin video menyanyi “Ramadan Kurindu”. Demi tugas sekolah yang memang harus disetor, jadilah kami menyanyi di depan kamera. Mau tahu hasilnya? Hancur. Hehe. Dibilang cover lagu bukan. Dibilang lypsinc juga bukan. Ya, begitulah. Gak bakat ngartis blas.

Saya jadi berpikir, kita yang menikmati film, sinetron, atau drama beberapa menit atau jam saja, butuh berapa lama syuting jika harus memainkan sebagai pemeran utamanya? Sutradaranya mencak-mencak mungkin. Butuh kesabaran untuk ambil hingga ratusan “take”, hehe.

Tapi sebenarnya, jika dipikir-pikir, rekaman baik audio maupun video itu mirip dengan nulis. Komunikasi yang tidak langsung. Disimpan dulu. Nanti diedit, baru kemudian disuguhkan ke audience. Tapi kenapa, kalau menulis saya lancar sementara rekaman masih grogian? Bisa karena kurang terbiasa, bisa karena saya berpikir; bagaimana nanti kalau salah, bagaimana kalau kurang bagus, bagaimana kalau tak sesuai dengan harapan. Dan pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya persis sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dalam pikiran penulis pemula.

Jadi jelas sudah. Artis pendatang baru seperti saya, perlu jam terbang lebih agar semakin pede saat nampang di depan kamera.

#bersemadi_harike7
#inspirasiramadan
#dirumahaja

#flpsurabaya

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Grogi Saat Rekaman"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel