Pesan untuk Para Pejuang Pena di Bulan Mulia


Tak ada kata “cuti” dalam menulis. Ramadan bukan terminal pemberhentian. Justru, seharusnya Ramadan menjadi jalan bebas hambatan. Setan-setan telah dibelenggu, kebaikan demi kebaikan ditampakkan, keberkahan dicurahkan, pahala-pahala dilipatgandakan.

Kita harus naikkan kecepatan. Melaju kencang. Meraup sebanyak mungkin bekal. Menuju tujuan akhir. Tempat yang kekal. Kehidupan akhirat. Maka kuantitas tulisan kita harus ditambah. Kualitas kita asah. Ramadan adalah momentum pembuktian, bahwa kita adalah para penulis yang tegak di jalan dakwah. Di atas jalan kebenaran. Di atas cahaya Islam yang kita cintai. Bahwa kita menulis, untuk satu tujuan: melapangkan jalan, menuju surga yang kita cita-citakan!

Menulislah lebih banyak di bulan ini. Para ulama tidak cuti menulis kitab di bulan suci. Sebagaimana ditulis Ibnu Jauzi dalam Shaid Al-Khatir, mereka justru mengurangi porsi shalat sunnah demi menulis. Sebab tulisan akan kekal, menembus jarak, menembus zaman. Kita menulis hari ini, dan akan menuai pahalanya hingga hari kiamat. Tak berkesudahan. Satu orang yang tergerak dalam kebaikan  karena tulisan kita, jauh lebih baik dari seluruh dunia dan isinya.

Kita tidak tahu, tulisan mana yang akan mengantar kita ke surga. Menulislah sebanyak-banyaknya. Mumpung kita ada dalam bulan penuh berkah ini. Kita berada dalam kondisi terbaik. Kita berpuasa. Kita menjauhi maksiat. Kita banyak tilawah Al-Qur'an. Kita shalat tarawih. Ini kondisi yang paling tepat untuk menulis. Ruhiyah yang prima akan menghasilkan kualitas tulisan yang menakjubkan, yang akan menembus hati pembaca, yang menginspirasi, yang menggerakkan.

Imbangilah dengan banyak membaca terjemahan dan tafsir Al-Qur’an, mendengarkan ceramah, membaca buku-buku Islami. Lalu menulislah dalam sunyi. Biarkan hati kita yang bicara. Kita berlatih jujur di hadapan Allah. Kita jujur di hadapan pembaca. Tak ada lain yang kita harapkan, kecuali ridha-Nya. Kecuali ridha-Nya.

Jangan pernah lelah wahai mujahid dan mujahidah pena! Apa yang telah Allah berikan pada kita adalah amanah. Potensi yang kita miliki adalah amanah. Barangkali, Allah menghendaki lewat tangan-tangan kitalah seseorang mendapatkan hidayah. Tidakkah kita rela, menukar kepayahan yang hanya 1 hingga 2 jam untuk menulis dengan yang lebih baik dari unta merah, lebih indah dari permata? Di taman surga, semua manusia akan lupa dengan kepayahan yang dialaminya di dunia.

Kalau belum membuat target, buatlah sekarang. Sehari menulis berapa halaman. Usahakan ada yang langsung dipublikasikan. Sebar via medsos. Biar pahalanya juga segera kita raih. Tak perlu malu. Tak perlu takut. Mengapa kita malu memburu akhirat? Sementara kita tak pernah malu setiap saat memburu dunia? Bahkan, naudzubillah, berkubang dalam dosa. Mengapa takut hanya karena dikritik dan tak mendapat pujian? Sementara kita tak takut pada Tuhan, saat membangga-banggakan dunia milik-Nya di hadapan manusia?

Kalau belum mengalokasikan waktu, aturlah sekarang. Tak perlu banyak jika aktivitas kita memang padat. 15 menit hingga 30 menit sudah cukup memadai. Setidaknya 1 halaman setiap hari. Soal apa yang ingin ditulis, tak perlu bingung. Tulis apapun yang menurut kita baik, yang menginspirasi orang lain. Tulis pengalaman selama beraktivitas di Bulan Ramadan. Tulislah kebaikan-kebaikan yang ada di sekitar kita.

Menulislah dengan disiplin yang ketat, dengan cepat. Setiap kata-kata yang meluncur dari ujung jari, bayangkan akan dibayar oleh Allah dengan pahala, lebih banyak dari isi rumah kita. Bayangkan surga. Bayangkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Bayangkan huruf terakhir yang kau tulis akan menjadi akhir dari kehidupanmu di dunia. kebaikan terakhir yang kau lakukan. Benih terakhir yang kau tanam.

Kelak, kita akan memanen buahnya di surga.

#bersemadi_harike5
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pesan untuk Para Pejuang Pena di Bulan Mulia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel