Ramadan di Madura


Saya lahir dan tumbuh di Pulau Garam. Di dua kabupaten berbeda. Pamekasan dan Sumenep. Kurang lebih 17 tahun lamanya, sebelum kemudian merantau ke Pulau Jawa.

Selama belasan tahun itu saya menikmati suasana Madura di kala Ramadan. Tidak hanya saat siang hari, tetapi juga saat malam hingga adzan subuh berkumandang. Tak banyak yang bisa saya potret. Otak saya saat itu terlalu fokus dengan satu kata: belajar. Ditambah pribadi saya yang cenderung introvert. Kurang luas dalam pergaulan.

Tapi saya merasakan kerinduan dengan masa-masa itu. menyeruak tiba-tiba. Ingin rasanya pulang dan mengulang kembali suasana yang berpuluh tahun sudah saya tinggalkan. Tapi situasi pandemi belum mengizinkan. Sementara ini, saya harus memendam kerinduan itu rapat-rapat.

Saya akan menuliskan apa saja yang saya rasakan dan saya lihat selama menghabiskan masa kecil dan remaja di Madura. Settingnya di dua tempat. Kecamatan Pasongsongan Sumenep dan Kecamatan Pademawu Pamekasan. SD banyak saya habiskan di Sumenep. Sementara SMP dan SMA di Pamekasan.

Jalanan Relatif Sepi di Siang Hari

Warung-warung dan toko banyak yang tutup. Mereka menghormati bulan mulia ini dan tidak berjualan. Sebagian buka di malam hari, tapi ada juga yang memilih tutup selama sebulan. Jarang sekali ada orang yang terang-terangan makan atau minum di pinggir jalan. Bukan berarti semua taat berpuasa. Tetapi demikian penghormatan yang mereka berikan kepada bulan suci dan penghargaan terhadap orang yang berpuasa. Sebagian kecil yang tidak puasa, mereka makan dan minum di rumah. Termasuk pula wanita yang sedang berhalangan.

Jajanan Buka Puasa

Di Pasongsongan, banyak sekali penganan khas yang dijadikan menu buka puasa. Beberapa yang masih saya ingat seperti serabi, pattolah, dan mancer. Favorit saya mancer. Bentuknya bulat kecil-kecil dan biasanya ditaburi sirup sebagai kuah. Manis dan segar. Saya lupa kapan terakhir mencicipi jajajan ini. Yang jelas, kangen untuk mencicipinya lagi. Kalau di Pamekasan, favorit saya es cao atu gudir. Kata orang-orang cao terbuat dari ban atau plastik yang dibakar. Dulu saya sempat percaya. Hahaha.

Tradisi “Lekoran”

Di malam-malam ganjil yang sering disebut sebagai kemungkinan turunnya lailatul qadar, masyarakat Madura punya kebiasaan yang unik. Mereka ter-ater ke tetangga. Lalu makan bersama di masjid atau langgar. Malam 21 menunya biasanya serabi, malam 23 tidak ada ketentuan khusus tapi biasanya lopes, malam 25 lontong, malam 27 nasi, malam 29 nyate di rumah masing-masing.

Tentang tradisi sedekah serabi konon katanya berasal dari kata “syarofi”, artinya malam yang mulia. Filosofinya begitu. Tapi di zaman modern, makanan serabi kadang kurang dilirik sama anak-anak. Apalagi kalau serabinya “gerre” alias keras dan kurang enak dimakan. Kadang dibuat senjata untuk perang-perangan. Serabi dicuil kecil-kecil lalu dilempar ke teman-teman. Saya pernah jadi salah satu pelakunya. Hehe. Lalu sama mbah disuruh ambil serabi yang kotor dan sudah jatuh ke tanah itu. Beliau marah karena makanan kok dibuang-buang.

Tarawih; Pilih Masjid atau Langgar?

Karena di kampung ada masjid, tapi ada langgar juga. Sebagian memilih ke masjid, sebagian ke langgar. Biasanya yang bacaan surat-suratnya “ringkas” lebih banyak peminatnya. Suatu ketika, imam di masjid bacaan suratnya terlalu panjang menurut jamaah. Lalu sebagian dari mereka memutuskan shalat tarawih di langgar. Sejak saat itu, masjid pun ambil bacaan surat yang pendek-pendek. Tapi Alhamdulillah masih tumakninah.

Petasan

Sekarang mungkin sudah berkurang. Ketika dulu saya masih SMP, orang-orang di kampung banyak yang membuat petasan sendiri. Besar-besar. Lalu terjadilah perang petasan. Puncaknya nanti ketika malam lebaran. Sudah bisa ditebak, jalan-jalan akan dipenuhi denga kertas bekas petasan.

Ngabuburit ke Pantai

Ini khusus waktu saya tinggal di Pasongsongan. Ngabuburit terfavorit adalah ke pantai. Kebetulan juga karena rumah dekat dengan pantai. Indah sekali menikmati debur ombak dan pemandangan sore, melihat matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Kalau di Pademawu, tempat kami agak jauh dari pantai, jadi jarang ngabuburit ke pantai. Malah biasanya lebih sering ke pusat kota.

Seruan Sahur

Seruan dan ajakan sahur datang dari masjid berulang-ulang. Biasanya ditunjukkan waktu jam berapa dan waktu imsak kurang berapa menit. Cara membangunkan seperti ini sangat bermanfaat sekali. Orang jadi terbantu untuk bersiap-siap. Kadang mulai pukul 2 pagi sudah dibangunkan. Ibu-ibu bangun untuk memasak. Sehingga sekitar pukul 3, semua hidangan sudah siap.

Kalau digali, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang unik. Sementara itu saja yang masih saya ingat.

#bersemadi_harike14
#inspirasiramadan
#dirumahaja

#flpsurabaya

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ramadan di Madura"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel