Warung Buka di Siang Hari Ramadan?


Ketika pindah ke Sidoarjo, terus terang saya kaget dengan banyaknya warung yang buka di bulan Ramadan. Ada yang ditutupi kain, biar tak terlalu kelihatan dari luar. Tetapi banyak pula yang buka terang-terangan.

Pemandangan yang membuat saya geram.

Tetapi saya tak punya “kekuatan” untuk menutup warung-warung itu. Andai saja saya jadi bupati, pasti sudah saya perintahkan semua satpol PP untuk merazia warung yang masih buka di siang hari bulan Ramadan. Tak peduli apapun alasannya.

Seorang teman, pernah bercerita kepada saya. Saking gemasnya, dia melempari warung yang masih buka di bulan Ramadan dengan batu. Alhasil, ia dikeroyok rame-rame oleh orang kampung. Beginilah kalau kita punya niat yang baik tapi tidak punya “kekuatan”.

Lain halnya, ketika warung yang buka adalah warkop di depan toko saya. Warkop yang tanahnya nyewa milik mertua saya. Sementara waktu itu saya dipercaya untuk mengelola.

Saya bukan tipe orang yang suka basa-basi untuk urusan prinsip.

Saat itu masuk Ramadan. Warkop buka. Melayani banyak anak muda yang datang dan tidak puasa. Meski sudah ditutup dengan kain, bagi saya warkop yang buka di bulan Ramadan sama sekali tidak menghargai keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan. Apalagi, pemiliknya seorang muslim.

Saya minta, tutup!

"Njenengan tutup. Buka habis maghrib sampai sahur saja. Tolong hargai bulan Ramadan. Kalau nggak, monggo saya kembalikan sisa uang kontraknya, dan njenengan tutup untuk seterusnya." Begitu. Tegas saya katakan kepada pemilik warkop.

Istri saya agak khawatir, bagaimana kalau benar si pemilik warkop meminta kembali uang kontraknya. Saya katakan agar dia tenang saja. Meski saat itu kami tak punya uang, untuk urusan prinsip tetap harus tegas. Uang bisa dipikir belakangan. InsyaAllah ada jalan. Siapa yang membantu agama Allah akan ditolong oleh Allah.

Itulah saya. Ghirah saya muncul seketika. Ini bukan urusan tak kuat menahan godaan, karena insyaAllah saya sanggup bersabar dari melihat orang makan dan minum. Tapi ini lebih pada bagaimana menghormati bulan mulia. Memfasilitasi orang untuk durhaka kepada-Nya?

Alasan bahwa orang-orang musafir yang tidak puasa bisa saja butuh minum, tidak bisa diterima. Bukankah banyak minimarket yang buka? Kalau warkop, apalagi yang dijual bukan makanan pokok, alasan apalagi yang mau dikemukakan?

Ramadan tahun lalu, si empunya warkop sudah baik hati meminta saran saya apakah buka atau tutup selama Ramadan. Tegas saya katakan, tutup di siang hari. Maka warkop itu pun hanya buka menjelang maghrib sampai subuh. Dan tak kurang pengunjung yang datang ke sana.

Sesekali ada penjaga warkop yang nakal, ngajak teman-temannya nongkrong sambil minum di siang hari. Saya usir.

Ini pemandangan yang asing bagi saya. Darah Madura saya mengajarkan tentang penghormatan yang agung terhadap bulan Ramadan dengan tidak makan minum di tempat umum. Hatta memang berhalangan. Kalau tak puasa, beli di minimarket, bawa pulang, makan di kamar.

Di tempat kelahiran saya itu, hampir bisa dibilang tidak ada warung yang buka ketika Ramadan datang. Meskipun ada juga yang tidak puasa, tapi mereka malu menampakkannya di depan orang-orang. Tradisi kami begitu mengagungkan bulan Ramadan. Siapa yang berusaha mengotorinya, ia akan mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat. Memang bukan hukuman fisik, tapi dikucilkan dari masyarakat itu termasuk hukuman yang menyakitkan.

Saya tak ingin bertenggang rasa dalam hal ini. Jika ada orang yang mengatakan: biarlah warung buka, itu adalah ujian iman bagi kita. Justru jika kita punya “kekuatan”, jika kita didengar, maka berilah saran yang baik buat mereka. Bukankah justru itulah bukti iman? Menolak kemungkaran dengan “kekuatan”.

"Baik, Pak, saya akan tutup warkopnya," demikian wapri balasan dari pemilik warkop kemudian.

#bersemadi_harike9
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Warung Buka di Siang Hari Ramadan?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel