KIsah-Kisah Patah Hati Lelaki


Benarkah laki-laki lebih mudah move on dari perempuan, ketika cintanya patah?

Kisah legendaris yang ditulis Nizhami mengabarkan sebaliknya. Bukan Laila, tapi Qais yang gila. Rindu yang tak kesampaian, cinta yang begitu dalam. Hubungan mereka tak direstui. Qais mengasingkan diri ke hutan. Menyenandungkan syair-syair indah untuk kekasihnya. Namun kabar pernikahan Laila dengan orang lain, membuat hatinya semakin remuk.

"Kasihku! Kirimkan aku sehelai rambutmu-- itu akan berarti segalanya bagiku. Kirimkan aku salah satu dari duri-duri yang terletak di jalanmu, aku akan memeliharanya hingga ia akan berkembang menjadi sebuah kebun mawar! Karena kemana pun engkau melangkah, padang pasir akan berubah menjadi taman bunga: kau adalah Khizr-ku, utusan untukku dari Tuhan, air kehidupan abadiku! Aku adalah rembulan dan kau adalah matahariku yang memberiku cahaya dari kejauhan. Kau adalah anggur dalam cawanku, namun tidak menjadi milikku. Kau adalah mahkota yang dibuat untukku, namun menghiasi kepala orang lain. Memang, kau adalah hartaku, namun kau ada di tangan orang asing, untuk dia nikmati: aku tidak lain hanya seorang pengemis malang yang dipatuk oleh ular yang menjagamu."

Siapapun yang membacanya, akan bisa merasakan betapa sendunya senandung patah hati itu. Cinta Qais pada Laila, mungkin lebih besar, hingga ia pun merasakan kehilangan yang besar. Patah hati yang tak berkesudahan.

Tapi, bukankah kisah karya Nizhami itu fiksi? Mungkin ada yang mengatakan demikian. Saya pribadi, sebagaimana banyak orang, meyakini bahwa kisah itu benar-benar ada. Sekurang-kurangnya terinspirasi dari kisah sejati. Sebab seperti kata Buya Hamka, "Tak akan dapat mengarang kisah percintaan bagi orang yang tak merasakan cinta." Dan kisah cinta yang demikian menggetarkan itu, tak mungkin ditulis oleh orang-orang yang tak merasakan getarannya.

Tetapi baiklah. Saya akan mengisahkan patah hati yang diabadikan sejarah. Kisah para lelaki dengan kesejatian cinta mereka. Agar orang-orang tidak mengatakan, patah hati hanya milik perempuan. Laki-laki lebih senang berpetualang dari satu cinta ke cinta lainnya. Lalu melupakan semuanya. Tidak! Kisah-kisah ini akan menunjukkan, bahwa lelaki juga punya peluang yang sama, untuk patah yang berderai-derai. Kehilangan yang menyakitkan.

Sheh Jahan, memendam duka yang dalam atas kematian Mumtaz, wanita yang sangat dicintainya. Setahun lamanya ia berkubang air mata. Menyendiri, mengenang kepergian belahan jiwa. Hingga konon, saat ia tampil di muka umum, wajah dan tubuhnya tampak jauh lebih tua. Shah Jahan membuat prasasti abadi untuk mengenang Mumtaz. Sebuah bangunan indah yang dibuat selama 22 tahun. 22 tahun rindu yang ia simpan dalam-dalam. Itulah istana pualam Taj Mahal yang kita kenal.

Kisah lain, dari penyair kenamaan, Dante Alighieri. Cinta Dante pada Beatrice yang berakhir tragis. Beatrice menikah dengan laki-laki lain. Ia hadir dalam pesta pernikahan yang membuat kedua matanya berderai dan hatinya hancur itu. Beatrice tak pernah menjadi miliknya. Tiga tahun setelah gadis pujaannya membangun mahligai dengan laki-laki lain, hingga lalu menghembuskan napas terakhir, Dante terguncang hebat. Inspirasinya lenyap. Ia memutuskan berhenti menulis. Namun suatu malam, Dante bermimpi, Beatrice menyapanya, berkata kepadanya, "Cinta sejati, tak dapat diputus oleh maut." Seketika, semangat Dante untuk menulis kembali bangkit. Perlahan, jiwanya kembali hidup. Ia menulis canzone, semacam tembang untuk mengenang kepergian Beatrice.

"Kukisahkan tentang dia, sambil terisak, karena dia pergi tiba-tiba menuju surga, dan relakan cinta yang berduka bersama diriku. Beatrice telah pergi menuju langit tertinggi, ke kerajaan tempat para malaikat berbahagia..."

Lain lagi dengan Rabindranath Tagore, pujangga sekaligus peraih nobel sastra asal India. Dalam bukunya, _Purabi_, menjelang akhir hayatnya, Tagore masih mengungkapkan rasa cintanya pada Victoria, wanita yang pergi meninggalkannya. "Bagaimana aku dapat menemukan jalan ke tanah seberang, di mana telah menanti uluran cinta untukku. Impian-impian kemarin akan mengepakkan sayapnya dan membangun sarang baru. Kenangan-kenangan indah akan meluncur lagi dari suling yang telah kehilangan melodinya. Bahasanya memang tidak kuketahui, tetapi matanya akan dengan fasih mengungkapkan kedukaannya."

Omar Khayam, penyair dan astronom terkemuka pun memiliki kisahnya. Cintanya pada Jasmi tak tergantikan. Tiga tahun ia tak mendapat kabar tentang Jasmi. Tiga tahun itulah ia merasa kehilangan jiwanya, meski ia hidup di dalam istana dengan ratusan wanita cantik-- yang jika ia mau, bisa ia nikahi kapan saja. Tetapi cinta Omar Khayam hanya untuk Jasmi. Meski ketika kemudian mereka bertemu di Aleppo, pada jarak ratusan kilometer dari Naisapur, kondisi Jasmi memprihatinkan. Sakit parah. Rupa yang pudar kecantikannya. Tapi cinta Omar Khayam tidak berubah. Ia menikahi Jasmi, wanita yang mencintai dan sangat dicintainya.

Kiranya perlu berapa kisah lagi, untuk menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa patah hati. Bahwa laki-laki juga bisa mengeram cintanya dalam rentang yang panjang. Bahkan, hingga maut merenggutnya.

Sidoarjo, 2 Desember 2019

sumber gambar: idntimes.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KIsah-Kisah Patah Hati Lelaki"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel